Kamis, 31 Maret 2011

KEAJAIBAN OTAK MANUSIA

Otak manusia merupakan bagian tubuh paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta. Inilah satu-satunya organ yang senantiasa berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak itu akan berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.
Bobby De Porter & Mike Hernacki sekitar tahun 90-an meluncurkan buku yang sangat terkenal yaitu Quantum Learning : Unleashing The Genius In You, yang diterjemahkan oleh Penerbit Kaifa dengan judul Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (1992). Dalam bukunya itu, kedua penulis menitikberatkan pada upaya untuk memanfaatkan potensi otak manusia secara optimal.
Dalam hipotesisnya, Bobby De Porter & Mike Hernacki menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari 3 (tiga) bagian dasar, yaitu batang atau “otak reptile“, system limbik atau “otak mamalia” dan neokorteks. Ketiga bagian itu masing-masing berkembang pada waktu yang berbeda dan mempunyai struktur syaraf tertentu serta mengatur tugasnya masing-masing. Batang atau otak reptile adalah komponen kecerdasan terendah dari manusia. Ia bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi sensor motorik sebagai insting mempertahankan hidup dan pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari pancaindera. Apabila otak reptile ini dominan, maka kita tidak dapat berfikir pada tingkat yang sangat tinggi.
Di sekeliling otak reptile terdapat sistim limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistim limbik ini terletak di tengah otak yang fungsinya bersifat emosional dan kognitif. Perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampaun belajar dikendalikan oleh sistim limbik ini. Sistim ini juga merupakan panel control yang menggunakan informasi dari pancaindra untuk selanjutnya didistribusikan ke bagian neokorteks.
Neokorteks adalah bagian otak yang menyimpan kecerdasan yang lebih tinggi. Penalaran, berfikir secara intelektual, pembuatan keputusan, bahasa, perilaku yang baik, kendali motorik sadar dan penciptaan gagasan (idea) berasal dari pengaturan neokorteks. Menurut Howard Gardner, kecerdasan majemuk (multiple intelegence) berada pada bagian ini. Bahkan pada bagian ini pula terdapat intuisi yaitu kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak diterima oleh pancaindera.
Selain tiga bagian diatas, otak juga dibagi menjadi dua belahan penting, yaitu otak kiri dan otak kanan, yang masing-masing bertanggung jawab atas cara berfikir yang berbeda-beda, walau penyilangan antara dua bagian itu pun tetap ada. Otak kiri bersifat logis, sekuensial, linier dan rasional. Otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik.
Kedua bagian belahan otak itu amat penting dalam kecerdasan dan tingkat kesuksesan. Orang yang mampu memanfaatkan kedua belahan otak ini secara proporsional akan cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya. Tentunya dalam kegiatan pembelajaran yang mengacu dan memperhatikan kedua belahan otak ini juga akan menentukan sejauhmana tingkat kecerdasan yang dapat diraih oleh peserta didik.
Paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan selayaknya mengacu pada perkembangan otak manusia seutuhnya. Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang cerdas secara utuh. Akibatnya, peserta didik dijejali dengan berbagai macam informasi tanpa diberi kesempatan untuk melakukan telaahan dan perenungan secara kritis, sehingga tidak mampu memberikan respons yang positif. Mereka dianggap seperti kertas kosong yang siap menerima coretan informasi dan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, kegiatan yang terjadi di dalam ruang belajar masih bersifat tradisional yakni menempatkan guru pada posisi sentral (teacher centered) dan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menerima dan menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dengan penuh keterpaksaan, menerima hukuman atas kesalahan yang diperbuat, dan jarang sekali mendapat penghargaan dan pujian atas jerih-payahnya.
Oleh karena itu, dalam upaya mengubah paradigma pembelajaran sehingga dapat memberdayakan otak secara optimal, pendapat Eric Jensen dalam bukunya Brain Based Learning, patut untuk dijadikan rujukan. Dia menawarkan sebuah konsep dalam menciptakan pembelajaran dengan orientasi pada upaya pemberdayaan otak siswa. Menurutnya ada tiga strategi berkaitan dengan cara kita mengimplementasikan pembelajaran berbasis kemampuan otak, yaitu :
  1. menciptakan suasana atau lingkungan yang mampu merangsang kemampuan berpikir siswa. Strategi ini bisa dilakukan terutama pada saat guru memberikan soal-soal untuk mengevaluasi materi pelajaran. Soal-soal yang diberikan harus dikemas seatraktif mungkin sehingga kemampuan berpikir siswa lebih otimal, seperti melalui teka-teki, simulasi, permainan dan sebagainya.
  2. menghadirkan siswa dalam lingkungan pembelajaran yang cukup menyenangkan. Guru tidak hanya memanfaatkan ruangan kelas untuk belajar siswa, tetapi juga tempat-tempat lainnya, seperti di taman, di lapangan bahkan diluar kampus. Guru harus menghindarkan situasi pembelajaran yang dapat membuat siswa merasa tidak nyaman, mudah bosan atau tidak senang terlibat di dalamnya. Strategi pembelajaran yang digunakan lebih menekankan pada diskusi kelompok yang diselingi permainan menarik serta variasi lain yang kiranya dapat menciptakan suasana yang menggairahkan siswa dalam belajar.
  3. membuat suasana pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang aktif dan bermakna hanya dapat dilakukan apabila siswa secara fisik maupun psikis dapat beraktivitas secara optimal. Strategi pembelajaran yang digunakan dikemas sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara aktraktif dan interaktif, melalui model pembelajaran yang bersifat demontrasi.
Apa yang dikemukakan Eric Jensen di atas merupakan upaya konkret dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, kunci keberhasilan itu semua terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mereformasi cara dan strategi pembelajarannya serta berani untuk menggeser paradigma berfikirnya, sehingga lebih bersifat praksis ketimbang teoritis.

QUANTUM LEARNING

A. Pendahuluan
Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan, ditemukan sebuah pendekatan pengajaran yang disebut dengan Quantum Teaching. Quantum Teaching sendiri berawal dari sebuah upaya Dr Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar.
Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi DePorter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik.
Konsep itu sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun de Porter. Dilakukan sebuah penelitian untuk disertasi doktroral pada 1991, yang melibatkan sekitar 6.042 responden. Dari penelitian itu, Super Camp berhasilmendongkrak potensi psikis siswa. Antara lain peningkatan motivasi 80%, nilai belajar 73% , meningkatkan harga diri 84% dan melanjutkan penggunaan keterampilan 98%.
Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:
E = mc2
E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)
M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik)
c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)
Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar pada peserta didik.
B. Arti Quantum Teaching
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. JadiQuantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Dalam Quantum Teaching bersandar pada konsep ‘Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Dengan Quantum teaching kita dapat mengajar dengan memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan pada fungsinya masing-masing. Penelitian di UniversitasCalifornia mengungkapkan bahwa masing-masing otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda.
Otak kiri menangani angka, susunan, logika, organisasi, dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, beralasan dengan pertimbangan  yang deduktif dan analitis. Bgian otak ini yang digunakan berpikir mengenai hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah. Kita dapat memfokuskan diri pada garis dan rumus, dengan mengabaikan kepelikan tentang warna dan irama.
Otak kanan mengurusi masalah pemikiran yang abstrak dengan penuh imajinasi. Misalnya warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yang memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis. Kita dapat melibatkan diri dengan segala rupa dan bentuk, warna-warni dan kelembutan, dan mengabaikan segala ukuran dan dimensi yang mengikat.
C. Prinsip Quantum Teaching
Prinsip dari Quantum Teaching, yaitu:
1. Segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.
2. Segalanya bertujuan, siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan.
3.  Pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep.
4.  Akui setiap usaha, menghargai usaha siswa sekecil apa pun.
5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus!, baik!, dll.
<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>Kerangka rancangan Belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR
1.   TUMBUHKAN. Tumbuh- kan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat BAgiKU “
(AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar
1.    ALAMI. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar
2.    NAMAI. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”
3.    DEMONSTRASIKAN. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”
4.    ULANGI. Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”.
5.    RAYAKAN. Pengakuan  untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan
D. Petunjuk Pelaksanaan  Quantum Teaching (Contoh Kasus di SMA Anu)
1.    Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur , jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum).
2.    Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan. “learning is most effective when it’s fun. ‘Kegembiraan’ disini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) , dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
3.    Lingkungan Belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan:
a.     Pengaturan meja dan kursi diubah dengan berbagai bentuk seperti bentuk U, lingkaran
b.    Beri tanaman, hiasan lain di luar maupun di dalam kelas
c.     Pengecatan warna ruangan, meja, dan kursi yang yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas
d.    Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan, kata mutiara pemacu semangat, misalnya kata: “Apapun yang dapat Anda lakukan, atau ingin Anda lakukan, mulalilah. Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya” (Goethe).
4.    Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya. Guru dapat mempengaruhi suasana emosi siswa dengan cara :
a.     kegiatan-kegiatan pelepas stres seperti menyanyi bersama, mengadakan permainan, outbond dan sebagainya.
b.    aktivitas-aktivitas yang menambah kekompakan seperti melakukan tour, makan bersama dan sebagainya.
c.     menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan yaitu melalui bimbingan konseling baik oleh petugas BP/BK maupun guru itu sendiri.
5.    Memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis musik lain untuk bersenang-senang dan jeda dalam pembelajaran.
6.    Sikap guru kepada peserta didik :
a.     Pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan
b.    Perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat
c.     Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik
d.    Memberikan stimulus yang mendorong peserta didik
e.     Mendukung peserta 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung
f.      Memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.
7.    Terapkan 8 kunci keunggulan ini kedalam rencana pelajaran setiap hari. Kaitkan kunci-kunci ini dengan kurikulum.
a.     Integritas: Bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh. Selaraskan nilai-nilai dengan perilaku Anda
b.    Kegagalan Awal Kesuksesan: Pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang Anda butuhkan untuk sukses
c.     Bicaralah dengan Niat Baik: Berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus. Hindari gosip.
d.    Hidup di Saat Ini: Pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan sebaik-baiknya
e.     Komitmen: Penuhi janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan
f.      Tanggung Jawab: Bertanggungjawablah atas tindakan Anda.
g.    Sikap Luwes dan Fleksibel: Bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu Anda memperoleh hasil yang diinginkan.
h.     Keseimbangan: Jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa Anda. Sisihkan waktu untuk membangun dan memelihara tiga bidang ini.
8.    Guru yang seorang Quantum Teacher mempunyai ciri-ciri dalam berkomunikasi yaitu :
a.     Antusias : menampilkan semangat untuk hidup
b.    Berwibawa : menggerakkan orang
c.     Positif : melihat peluang dalam setiap saat
d.    Supel : mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik
e.     Humoris : berhati lapang untuk menerima kesalahan
f.      Luwes : menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
g.    Menerima : mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti
h.     Fasih : berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur
i.      Tulus : memiliki niat dan motivasi positif
j.      Spontan : dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
k.     Menarik dan tertarik : mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik
l.      Menganggap peserta didik “mampu” : percaya akan keberhasilan peserta didik
m.   Menetapkan dan memelihara harapan tinggi : membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin
9.    Semua peserta didik diusahakan untuk  memiliki modul/buku sumber belajar lainnya, dan buku yang bisa dipinjam dari Perpustakaan. Tidak diperkenankan guru mencatat/menyuruh peserta didik untuk mencatat pelajaran di papan tulis
10.  Dalam melakukan penilaian guru harus berorientasi pada :
a.     Acuan/patokan. Semua kompetensi perlu dinilai sesuai dengan acuan kriteria berdasarkan indikator hasil belajar.
b.    Ketuntasan Belajar. Ketuntasan belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawakan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi berikutnya.
c.     Metoda penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain
Tes Tertulis : pertanyaan-pertanyaan tertulis
Observasi : pengamatan kegiatan praktik
Wawancara : pertanyaan-pertanyaan langsung tatap muka
Portfolio : Pengamatan melalui bukti-bukti hasil belajar
Demonstrasi : Pengamatan langsung kegiatan praktik/pekerjaan yang sebenarnya
1.    Kebijakan sekolah dalam KBM yang patut diperhatikan oleh guru :
a.     Guru wajib mengabsensi peserta didik setiap masuk kelas
b.    Masuk kelas dan keluar kelas tepat waktu. Jam pertama misalnya 07.30 dan jam terakhir harus pulang sama-sama setelah bel berbunyi. Pada jam istirahat tidak diperkenankan ada kegiatan belajar mengajar.
c.     Guru wajib membawa buku absen & daftar nilai, Silabus, RPP, program semester, modul/bahan ajar sejenisnya ketika sedang mengajar
d.    Selama KBM tidak boleh ada gangguan yang dapat mengganggu konsentrasi peserta didik. Misalnya guru/peserta berkomitmen bersama untuk tidak mengaktifkan HP ketika PBM berlangsung
e.     Guru harus mendukung kebijakan sekolah baik yang berlaku baik untuk dirinya sendiri maupun untuk peserta didik dan berlaku proaktif.
f.      Untuk pelanggaran oleh peserta didik maka hukuman dapat ditentukan secara musyawarah bersama peserta didik, namun untuk pelanggaran kategori berat sekolah berat menentukan kebijakan sendiri.
1.    Pengalaman belajar hendaknya menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran.
a.     Terdapat kegiatan membaca, menjelaskan, demonstrasi, praktek, diskusi, kerja kelompok, pengulangan kembali dalam menjelaskan dan cara lain yang bisa ditemukan oleh guru.
b.    Gunakan spidol warna-warni dalam membantu menjelaskan di papan tulis.
c.     Disarankan menggunakan media pendidikan seperti projector, bagan, dan sebagainya.
d.    Diperbolehkan belajar di luar kelas seperti di bawah pohon, dipinggir jalan
Siswa belajar : 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang di lihat dan dengar, 70% dari apa yang  dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan lakukan (Vernon A. Magnessen, 1983). Ini menunjukkan guru mengajar dengan ceramah, maka siswa akan mengingat dan menguasai hanya 20% karena siswa hanya mendengarkan. Sebaliknya jika guru meminta siswa untuk melakukan sesuatu dan melaporkanknya maka akan mengingat dan menguasai sebanyak 90%.
1.    Guru harus selalu menghargai setiap usaha dan hasil kerja siswa serta memberikan stimulus yang mendorong siswa untuk bernuat dan berpikir sambil menghasilkan kara dan pikiran kreatif. Ini memungkinkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup. Untuk itu guru bisa menggunakan berbagai metoda dan pengalaman belajar melalui contoh yang konstekstual. Setiap kesuksesan dalam belajar siswa layak untuk dirayakan.
1.    Suasana belajar siswa, guru dapat mengarahkan kearah ke ranah kognitif, afektifdan psikomotorik. Suasana belajar juga melibatkan mental-fisik-emosi –sosial siswa secara aktif supaya memberi peluang siswa untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.
E. Penutup
Sekolah yang didirikan DePorter itu, menjadi pusat percontohan tempat metodeQuantum dipraktikkan. Remaja, karyawan, eksekutif perusahaan, menjadi murid di sekolah ini. Tujuannya satu: menjadi manusia baru. Itulah sebabnya Jack Canfielf, penulis buku Chicken Soup of the Soul mengatakan, metode ini akan mengobarkan kembali api yang ada di dalam diri Anda.
Penulis telah melakukan uji coba di SMK Y untuk melaksanakan pengajaran modelquantum ini, namun ternyata tidak semudah harapan dan teori yang ditulis oleh DePorter, penulis mengalami hambatan antara lain :
1.  Ketika ada musik dalam pembelajaran, para guru merasa keberatan dan merasa aneh. Mereka menganggap musik justru mengganggu konsentrasi
2.  Guru dan Siswa SMK Y tidak terbiasa mendengar musik klasik, instrument yang lembut. Sehingga ketika musik dipaksakan di dengarkan di kelas, siswa malah mengantuk dan guru merasa terganggu
3.   Tidak bisa selamanya guru berlaku manis, baik dan perhatian kepada siswa. Justru sikap ini bisa diremehkan siswa. Jadi guru dalam hal ini harus lengkap perangainya bisa marah namun juga  bisa ramah.
Namun untuk penerapan di SMA Favorite di sebuah kota Anu dan di  sebuah Lembaga Bimbingan Belajar, sungguh Quantum Teaching merupakan keberhasilan yang luar biasa antara guru, siswa dan sekolah/Lembaga Bimbel dalam bersama-sama meraih puncak prestasi. Jika Anda menjadi guru apa dan di sekolah mana saja silahkan mencoba menerapkan Quantum Teaching, dan penulis ucapkan : Selamat menjadi Guru Quantum yang ‘kan menjadikan kelas “Bergairah dan Menyenangkan
Sumber :
Buzan, Tony, The Min Map Book, New York: Dutton, 1993
DePorter, Bobbi and  Mike Hernacki, Quantum Learning, New York: Dell Publishing, 2001
________. et. Al., Quantum Teaching, New York : dell Publishing, 2001.
Lozanov, George, Suggestology and Suggestopedia, Paris : makalah yang disajikan kepada United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, 1087
Megensen, Vernon, Innovative Abstracks 5, 25 National Institute for Staff and Organizational Development, University of Texas, Austin, Texas, 1993

Pembelajaran Aktif,Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

PENDAHULUAN
BAB I
Latar Belakang Masalah
Pada era reformasi ini, perubahan paradigma berfikir merupakan tuntutan yang sangat mutlak dan tidak dapat ditawar. Karena itu, sebagai pegawai bidang jasa yang dinaungi etika profesional, kitapun wajib untuk turut serta dalam perkembangan tersebut. Dengan membantu program pemerintah, khususnya di bidang pendidikan.
Perkembangan ilmu mengajar dan ilmu mendidik, tampaknya telah harus kita tinggalkan, sejalan dengan usangnya pula metode pembelajaran, untuk digantikan dengan apa yang disebut dengan “strategi belajar.” Di mana seorang guru yang aktif mengajar, pada saat lalu dianggap sebagai guru teladan, kini dianggap sebagai guru yang kurang memahami perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini Winarno Surakhmad, dalam  “Ketika guru mengajar, apakah murid belajar?”(2003) menyampaikan sebagai berikut :
“Sebenarnya, seruan ini ditujukan kepada guru yang banyak mengajar, tetapi yang salah mengajar, jadi semakin banyak dia mengajar semakin banyak dia salah mengajar. Bagaimana mungkin? Mungkin saja. Bahkan sangat mungkin. Guru yang demikian berpendapat lebih kurang begini :
-      Untuk mengajarkan sesuatu, ia harus mengemukakan dan menjelaskan permasalahan yang diajarkan kepada murid.
-      Untuk menjelaskan dengan baik, maka ia harus banyak berbicara kepada murid. (Penjelasan yang baik, tidak dapat dilakukan apabila ia  berdiam diri, bukan?)
-      Karena itu, ia mengajar = berbicara. Makin banyak ia mengajar, makin banyak ia berbicara. (Guru ini, pasti tidak dapat mengajar apabila ia sedang terkena sakit tenggorokan!) (2003:8)
Dari pendapat di atas, tampak benar bahwa yang terjadi bukanlah siswa yang belajar, tetapi guru yang sedang mengajar. Atau dengan kata lain, fokus dari apa yang dilakukan oleh si guru yang terutama adalah, bagaimana agar ia dapat mengajar dengan baik, bukan pada bagaimana siswanya belajar dengan baik. Juga tampak benar bahwa terdapat sesuatu yang janggal, dari apa yang disampaikan oleh Winarno Surakhmad di atas, yaitu bila demikian, bagaimana seakarang cara mengajar yang baik itu?
Demikian pula tentang istilah “mengajar”, masih dapatkah itu digunakan dalam kegiatan belajar mengajar kita?
Mari kita pahami pendapat berikutnya tentang pengertian yang perlu kita dalami, sebagai berikut :
“Kecuali…apabila dia mau mengubah sikap untuk belajar mengajar sesedikit mungkin, dengan efek pembelajaran sebesar mungkin. Guru tidak perlu harus selalu berbicara, menjelaskan. Tidak mustahil bahwa ketika guru menjelaskan, komunikasi justru terhenti, ketika murid tidak mendengarnya Ingat, mendengarkan adalah sebuah pekerjaan yang berat, bukan hanya untuk murid, tetapi juga – jujur saja – untuk guru.”
Dari pemahaman di atas, mengajar dikurangi, dan efek pembelajaran yang diperbesar. Jujur, sebagai seorang guru yang berpengalaman kurang lebih 20 tahun, belum pernah terfikir bahwa apa yang kita lakukan selama ini sangat jauh dari baik. Artimya, bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah mengajar, bukan pembelajaran yang memiliki efek belajar.
Ada satu pertanyaan yang menggelitik hati kita, yaitu : apakah guru harus belajar? Sardiman AM, dalam “Interaksi dan Motivasi Belajar” Menyampaikan pendapatnya tentang hal ini sebagai berikut :
“Bila ada proses belajar, maka bersama itu pola terjadi proses mengajar. Hal ini mudah dipahami, karena bila ada yang belajar, sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya, kalau ada yang mengajar, tentu ada pula yang belajar. Kalau sudah terjadi suatu proses (saling interaksi), antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada dalam kondisi yang “unik”, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi, guru, walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga belajar.”(1986:21)
Jadi guru harus tetap belajar, agar apa yang dilakukan untuk muridnya dapat dipahami dengan baik oleh muridnya, dan muridnya mau belajar, agar dapat mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Karena hanya guru yang selalu belajar dan benar-benar memahami makna berlajarlah yang sebenarnya dapat mengarahkan belajar siswa. Bagaimana mungkin seorang guru yang tidak pernah belajar dan memahami makna belajar dapat membina siswanya untuk senang dan aktif belajar?
Yang dimaksudkan di sini adalah, bahwa apa yang kita lakukan selama ini memerlukan pemikiran ulang. “Mengajar sesedikit mungkin dengan efek pembelajaran sebanyak mungkin”, adalah mengurangi sebanyak mungkin mengajar kita, dan memperbanyak kemungkinan anak untuk belajar dan belajar sebanyak mungkin. Winarno Surakhmad, dalam hal ini menyatakan :
“Perbanyaklah belajar!  Dimaksudkan di sini tidak lain agar tujuan utama yang ada dalam benak guru ialah memungkinkan murid belajar, belajar dan belajar. Dibandingkan dengan belajar (dari pihak murid), mengajar (dari pihak guru) “tidak penting” Sesungguhnya, peran guru itu penting walaupun tidak mutlak. Jadi lebih tepat bila saya mengatakan bahwa dibandingkan dengan belajar yang begitu penting, di dalam proses perkembangan manusia, mengajar tidaklah sepenting itu. Seseorang terbukti dapat belajar tanpa guru, tetapi bisakah terjadi pembelajaran apabila ada guru tetapi tidak ada murid?
Agar pembelajaran dapat berlangsung dengan optimal, maka diperlukan peran serta dari anak untuk aktif melaksanakan pembelajaran, Dalam hal ini, Bambang Soenarko (1997:31) menyampaikan sebagai berikut :
“Anak memerlukan dorongan atau motivasi yang dapat memacunya untuk belajar lebih baik. Dorongan atau motivasi ini dapat muncul dari dalam diri anak sendiri atau dari luar, dalam hal ini para pendidk. Untuk membangkitkan motivasi anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
Disamping itu, antara guru dan siswa di setiap mata pelajaran, terus tumbuh rasa ingin tahunya, dengan bertanya apa, mengapa bagaimana dan sebagainya. Dengan dimilikinya rasa ingin tahu tersebut, maka guru dan siswa juga akan melakukan aktifitas mencari dan meneliti.”
Maka bertolak dari permasalahan di atas, peneliti mengajukan sebuah karya tulis ilmiah pengembangan proses pembelajaran Bahasa Indonesia, dengan judul :”Pengembangan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, Sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia ”
B. Identifikasi Masalah
Dari pembahasan di atas, teridentifikasi beberapa permasalahan yang berkait dengan pengambilan judul, yaitu :
1.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan. dilaksanakan.
2.      Bagaiamana strategi yang dilakukan guru agar siswa dapat aktif, kreatif, efektif dan senang belajar bahasa Indonesia.
3.      bagaimana pengaruh pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan terhadap siswa yang melakukan aktivitas belajar.
C. Pembatasan masalah
Agar permasalahan yang dinahas tidak mengembang, maka peneliti menyusun lingkup pembahasan pada :
1.      Pelaksanaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
2.      Strategi yang dilakukan guru agar siswa dapat aktif, kreatif, efektif dan senamg belajar bahasa Indonesia.
3.      Pengaruh pembelajaran sktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam melakukan aktivitas belajar.
D. Perumusan Masalah
Untuk mengarahkan penelitian dan pembahasan yang dilaksanakan, maka disusun permasalahan sebagai berikut :
1.         Bagaimanakah pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan balam pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan ?
2.         Bagaimanakah strategi yang dilakukan guru agar siswa dapat aktif kreatif dan senang belajar belajar Bahasa Indonesia?
3.         Bagaimanakah pengaruh pembelajaran aktif, kreatf, efektif dan menyenangkan  terhadap siswa yang melakukan aktifitas belajar  ?
E.       Tujuan Pembahasan
Pembahasan penelitian dilaksanakan untuk menjawab permasalahan :
1.         Bagaimana pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dilaksanakan ?
2.         Untuk mengetahui strategi yang dilakukan guru agar siswa dapat aktif, kreatif dan senang belajar.
3.         Bagaimana pengaruhnya terhadap siswa yang melalukan aktifitas belajar dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
F.     Manfaat Pembahasan
Hasil pembahasan diharapkan bermanfaat untuk ;
1.         Mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan optimalisasi pembelajaran.
2.         Menambah wawasan tentang strategi pembelajaran yang dapat dilakukan agar siswa aktif, kreatif dan senang belajar .
3.         Mengetahui sejauh mana pengaruh yang terjadi pada siswa yang melakukan pembelajaran dengan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
1. Pengembangan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan
Sebuah proses pembelajaran, oleh seorang guru profesional akan diharapkan untuk dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dia akan berusaha agar pembelajarannya dapat diterima siswa dengan  daya serap yang tinggi, dan siswanya memiliki nilai, kemampuan dan ketrampilan. Suharsimi Arikunto (1999) dalam ‘Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek”. Menyatakan :
“Seorang guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar. Ia membantu si anak didik. Ia selalu berusaha agar kadar bantuannya dapat meningkat, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Usahanya ada bermacam-macam. Mungkin ia memberikan motivasi belajar yang banyak. Mungkin ia mengganti metode yang ia gunakan untuk menerangkan, mungkin ia mengubah alat peraga dan sebagainya.”
Permasalahan yang saat ini sedang berkembang, dan banyak dipertanyakan adalah, apakah pada saat kita berusaha mengajar sebaik-baiknya, si anak juga akan belajar sebaik-baiknya? Winarno Surakhmad dalam masalah ini, menyatakan :
“Karena itu saya ulangi sekali lagi, mengajar diperlukan untuk memungkinkan terjadinya proses belajar. Bukan, dan tidak pernah sebaliknya. Masalah yang dapat kita amati di dalam praktek, dan patut selalu kita pertanyakan ialah, apakah ketika guru (merasa ) mengajar, sudah pasti bahwa murid belajar. Kenyataan menunjukkan, bahwa hal itu tidak selalu demikian. Sesekali anda sendiri pasti dapat mengamati bahwa sesungguhnya rekan anda, atau anda sendiri barangkali? Telah berusaha mengajar sebaik-baiknya, ada saja murid yang belum menunjukkan tanda-tanda telah belajar, yakni tanda-tanda telah paham.”.
Bila seorang ahli telah berpendapat demikian, dan kita juga merasakan bahwa apa yang kita lakukan selama ini demikian pula, maka diperlukan satu pola baru, yang memungkinkan siswa belajar. Atau dengan kata lain, diperlukan suatu strategi pembelajaran yang memungkinkan untuk membelajarkan anak. Stratregi belajar yang memungkinkan anak untuk aktif belajar. Dan untuk mengembangkan aktifitas belajar, dengan mengurangi sedikit mungkin proses mengajar, adalah dengan cara mengembangkan kreatifitas siswa untuk aktif belajar. Bambang Soenarko dalam “Metodologi Pembelajaran ” menyatakan :
“Kreatifitas merupakan proses kerja baik secara fisik maupun psikhis untuk menghasilkan sesuatu yang baru bagi yang melakukan kreatifitas. Sedang guru yang mendorong kreatifitas adalah guru yang menciptakan kondisi bagi siswa untuk aktif memproses sendiri pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai hasil belajar.”
Pandangan Bambang Soenarko sangat jelas sebenarnya, yaitu bahwa guru dalam proses pembelajaran harus mempunyai strategi agar siswanya memiliki kondisi untuk aktif memproses sendiri pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dimilikinya, sebagai hasil belajar. Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan. Namun, karena beberapa saat yang lalu, kita belum benar-benar menyadari, maka hanya menjadi satu kata mutiara yang kurang bermakna.
Bentuk yang memungkinkan untuk menumbuhkan aktifitas, kreatifitas, dan mampu mengembangkan motivasi siswa untuk belajar, dapat dilihat dari apa yang disampaikan dalam “Pendekatan kontekstual” Depdiknas (2003:1) serbagai berikut :
“Pentingnya lingkungan belajar :
-         Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton”
Ke “siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.”
-         Pengajaran harus berpusat pada “bagaimana cara” siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. “Strategi belajar” lebih penting dibandingkan hasilnya.
-         Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assesment) yang benar.
-         Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.”
Dikaitkan dengan beberapa hasil studi banding yang dilaksanakan beberapa saat yang lalu , diperoleh beberapa catatan yang dapat dikaitkan dengan yang ditunjukkan oleh pendekatan kontekstual. Beberapa catatan itu sebagai berikut :
1.      Dibentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari maksimal 6 orang, yang berfungsi sebagai sarana pengembangan kreatifitas di bawah strategi guru. Kelompok dipandang sebagai landasan untuk membentuk “komunitas belajar.”
2. Guru mengembangkan strategi pembelajaran dengan menggunakan teknik moderasi, sehingga memungkinkan mengarahkan siswa tanpa memberikan petunjuk. Tetapi memancing siswa agar “berfikir ke arah itu.” Jadi di sini guru tidak meninggalkan siswa untuk aktif sendiri, tetapi mengembangkan strategi yang memungkinkan siswa untuk berfikir dan bertindak ke arah aktifitas dan kreatifitas belajar dengan sendirinya.
3. Siswa belajar dengan mempertimbangkan apa, mengapa dan bagaimana yang dipelajarinya. Dengan terlebih dahulu melihat beberapa fortofolio yang dimilikinya, dan berdiskusi dengan guru pembimbing tentang mengapa ia belajar. Sehingga mereka melakukan aktifitas belajar dengan sadar akan apa yang dilakukannya.
4. Siswa dipersilahkan memilih sendiri akan belajar dengan model bagaimana, membaca, berdiskusi dengan teman, atau dengan guru, atau bahkan ingin  mengunjungi perpustakaan untuk melengkapi pengetahuan berkait dengan pengetahuan yang dimilikinya.
5. Siswa bersama guru menentukan nilai fortofolio yang dikerjakannya, dan dipajang ditempat yang tertera namanya.
Dengan konsep-konsep di atas, diharapkan, khususnya guru, akan mau dan mampu untuk mengembangkan strategi pembelajarannya, dan merubah paradigma berfikirnya, dengan membelajarkan anak. Atau dengan kata lain memiliki tekad bahwa tujuan pembelajaran yang dilakukannya adalah agar anak belajar untuk belajar memilki dan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
2.            Strategi Pembelajaran.
Telah banyak dikemukaan di atas tentang strategi pembelajaran yang kini sedang dikembangkan. Mengapa strategi pembelajaran?
Karena sejalan dengan banyaknya kritik para ahli tentang kegagalan pendidikan di Indonesia. Dan mengapa terjadi kegagalan, kita simak yang ditulis oleh Winarno Soerakhmad dalam “Mungkinkah mengembangkan sendiri kurikulum di sekolah ?” (2003) yang dimuat dalam Fasilitator berikut :
“Relatif masih banyak Kepala Sekolah dan guru yang tidak pernah mengerti betul apa yang dimaksudkan oleh para penyusun kurikulum dengan berbagai konsep di dalam setiap kurikulum baru, sampai saatnya kurikulum itu harus diganti dengan kurikulum yang lebih baru. Ada kemungkinan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sekarang sedang dipertanyakan, disosialisasikan, diuji cobakan dan dikembangkan oleh pemerintah, akan mengulangi penderitaan para guru yang tidak mengerti arah yang dituju, persis seperti ketika menghadapi kurikulum 1994.”
Ini adalah bentuk kegagalan yang pertama dari bentuk sosialisasi dan pemberlakukan kurikulum yang tidak disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang esensi dari kurikulum itu sendiri.
Bentuk kegagalan yang ke dua adalah juga yang digambarkan oleh Winarno Surakhmad dalam “Ketika Guru Mengajar, Apakah Murid Belajar?” (2003) berikut :
“Mengajar yang baik tidak harus berarti banyak mengajar (baca : menjelaskan). Bukan makin banyak makin baik. Bukan yang banyak yang baik. Tetapi yang baik selalu bernilai banyak. Mengajar yang berlebihan justru sering menggambarkan kelemahan kompetensi guru, Ada sedikitnya dua kemungkinan penyebabnya.
Pertama : karena guru menganggap murid-muridnya terlalu bodoh, sehingga “walaupun sudah diterangkan seribu kali” murid-murid masih saja tidak mengerti.
Kedua : karena gurunya justru gagal untuk belajar bagaimana menjadi guru yang efektif.”
Mengapa gagal untuk belajar menjadi guru yang efektif ? Banyak hal yang harus dicermati. Dalam “Pendekatan Kontekstual” (2003) disampaikan hal berikut :
“Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar “baru” yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan-pengetahuan dibenak mereka sendiri.”
Pendapat di atas mengacu pada strategi belajar yang memberdayakan siswa. Dalan hal ini terdapat penekanan, yaitumemberdayakan siswa. Dan untuk memberdayakan siswa agar dapat belajar maksimal, diperlukan guru-guru yang mau merubah pandangannya tentang mengajar. Salah satu bentuk perubahannya adalah seperti yang diuraikan oleh “Pendekatan kontekstual” (Contextual teaching and Learning) berikut :
“Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situiasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih penting daripada hasil” (2003:1)
Strategi pembelajaran lebih ditekankan dari pada hasil, karena selama sekian tahun kita telah dimabukkan dengan pencapaian prestasi, merusak pembentukan belajar untuk belajar mengumpulkan pengetahuan
Pengembangan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Sebagai Strategi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Situasi belajar yang demikian akan memotivasi setiap pembelajar untuk mengaktualisasikan, mendayagunakan dan mengembangkan potensi-potensi secara optimal dalam suatu orkestra interaksi multi arah yang harmonis, dan atas hamparan kasih sayang dan empati guru.”(2003:5)
Dengan strategi pembelajaran yang demikian, di mana siswa tidak lagi harus menghapalkan data dan fakta-fakta yang acak, yang kelak juga akan membentuk pola dan landasan berfikir yang acak pula, diharapkan lahir manisia-manusia baru yang lebih sistematis dalam berfikir, berbicara, bertindak, mampu mengembangkan nilai, moral dan etika. Dengan strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM), akan tumbuh pula manusia-manusia baru yang berfikir serta bertingkah laku yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pula.
Demikian pula dalam hal agar guru mau mengurangi sebanyak mungkin mengajarnya, serta menggantinya dengan strategi siswa belajar dengan mengkonstrusi pengetahuan (Constructivisme Learning/CL), Tetapi yang penting adalah bagaimana guru dapat mengembangkan strategi agar siswa dapat belajar dengan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Teori Bruner (Fasilitator Edisi I Tahun 2003:18) tentang belajar perlu kita simak untuk lebih memberikan pemahaman kita tentang belajar sebagai berikut :
“Bruner tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis. Yang penting baginya ialah bagaimana cara-cara orang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif, dan inilah menurut Bruner inti dari belajar.
Pendekatan Bruner terhadap belajar dilakukan pada dua asumsi. Asumsi pertama ialah, bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Asumsi kedua ialah bahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.
Yang kedua adalah teori Aubel, Balam “Fasilitator” (2003:19) bersama Novak berpendapat tentang belajar sebagai berikut :
“Ada dua asumsi belajar, yaitu : dimensi penerimaan/penemuan dan dimensi hafalan/bermakna, yang tidak menunjukkan dikotomi sederhana, melainkan merupakan suatu kontinuum. Dengan dikotomi sederhana, hafalan/bermakna dimaksudkan hafalan atau bermakna. Sedangkan dengan kontinuum hafalan/bermakna dimaksudkan kedua macam belajar itu selalu terjadi pada diri anak, hanya berbeda dalam kadarnya. Bila belajar hafalan berkurang, maka belajar bermakna bertambah. Demikian pula dengan dimensi penerimaan/penemuan.
Dari pandangan tiga ahli di atas, maka timbul pemikiran baru tentang pendekatan atau strategi belajar yang dimaksud oleh peneliti, yaitu : Strategi belajar yang memberikan kesempatan belajar sendiri di bawah strategi guru, dan dengan belajar sendiri tersebut diharapkan siswa akan menemukan dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya. Sedangkan guru bertindak selaku fasilitaor dan moderator yang membimbing dan menjamin agar strategi tersebut dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Diharapkan dengan teknik moderasi dan fasilitas yang diberikan kepada siswa untuk memanfaatkan kesempatan belajar dengan aktif, mereka dapat belajar untuuk belajar bagaimana caranya mengumpulkan pengetahuan.
.
Riberu, dalam “Pengantar Mengajar Dengan Sukses”, (1991:xxi) menyatakan sebagai berikut :
“Cara mengajar yanmg ingin mencapai hasil seperti utarakan di atas, harus memberi keleluasaan secukupnya kepada peserta didik untuk melatih kemampuannyadalam berbagai macam kegiatan, yang menuntut sumbangan dari kemampuan tersebut. Learning by doing, berlajar sambil berbuat, itulah yang dicanangkan oleh Paedagogik mutakhir. Tiap pengajaran wajib membantu proses belajar, dengan merangsang peserta didik untuk sendiri giat melakukan sesuatu. Dalam kegiuatan yang direncanakan dan dibuat sendiri oleh peserta didik dapat melatih kemampuannya, dan meresapkan apa yang didengarnya lewat pengalaman yang pasti meninggalkan bekas yang bermanfaat dalam perangkat dirinya.”
Dari gambaran ini, jelas bahwa bila dikaitkan dengan uraian dalam pembahasan teori di atas, telah dapat disimpilkan, bahwa pembelajaran dengan melakukan dan berbuat sendiri, sangat sesuai dengan Pembelajaan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan memahami diri bahwa sesuatu pekerjaan bila dikerjakan dengan menyenangkan, pasti akan dapat dipetik hasilnya.
Degeng, dalam “Pokok Pikiran Revolusi Belajar embelajaran”, (2003), menyatakan bahwa seorang siswa tidak akan dapat berhasil mengkonstruksi hasil belajar sebagai suatu bentuk bangunan pengetahuan dalama dirinya, bila tidak sejahtera dalam belajar. Bila dalam mengikuti proses belajar dan pembelajaran selalu ditekan dan tertekan, akaibat banyaknya hapalan, banyaknya tugas dan banyaknya larangan dan batasan yang diberikan oleh guru. Demikian pula Winarno Surakhmad dalam “Reformasi Pendidikan Dasar” (2003), menyatakan bahwa rutinitas mendengarkan ceramah guru oleh siswa mengakibatkan siswa tidak belajar, tetapi hanya mengingat yang diajarkan.
Demikian pula yang diuraikan oleh Budiman Hardjomarsono, dalam “Terapan Otonomi dalam mengelola sekolah, (2003), yang menekankan tentang pentingnya penerapan metode PAKEM, sebagai berikut :
“Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang bermutu dengan menerapkan metode PAKEM. Guru berkewajiban untuk mengupayakan agar pembelajaran dirancang sebaik-baiknya sehingga kepentingan dan kondisi perorangan siswa diperhatikan. Siswa terlibat dalam pembelajaran secara aktif, dengan irama dan cara belajar yang bervariasi, supaya tidak lagi terjadi proses pembelajaran yang berpusat pada guru.
Jadi, telah banyak peneliti yang melakukan penelitian bagaiman sebenarnya terapan PAKEM ini terhadap hasil belajar yang diupayakan. Sehingga tidak ada kelirunya bila dalam penelitian ini, peneliti juga mengembangkan pembelajaran PAKEM ini sebagai wahana baru di dunia pendidikan untuk mendekatkan siswa dengan alam belajarnya.
BAB III
KESIMPULAN, SARAN DAN RUJUKAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab IV, diperoleh data sebagai berikut :
1.         Pelaksanaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Siswa aktif membangun cara belajarnya, akrena guru tidak menerangkan, meminta menghapal, atau terpaksa berbuat demi keinginan guru.
2.         Strategi yang dilakukan guru agar siswa aktif, kreatif dan senang belajar adalah selalu memberi keleluasaan agar siswa mengembangkan keinginan belajar sesuai dengan cara yang diinginkannya.
3.         Pengaruh terhadap siswa yang melakukan aktifitas belajar adalah, siswa merasa sejahtera dan betah di kelas, karena tidak diharuskan menghapal dan bangga bahwa mereka berani bertanya dan diskusi dengan gurunya.
B. Saran
Dari kesimpulan yang diperoleh, penulis menyarankan agar guru melakukan hal-hal berikut :
1.            Mengubah paradigma berfikirnya dengan mengembangkan strategi pembelajaran aktif, kretif, efektif dan menyenangkan, dengan tidak memaksa siswa untuk menghapal atau mengikuti keterangan yang disampaikannya dalam mengajar.
2.            Selalu memberi keleluasaan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara yang diinginkannya, sehingga siswa mengenali cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya.
3.            Guru memahami bahwa tujuan dari strategi pembelajarnnya adalah siswa belajar untuk belajar memperoleh pengetahuan demi mengembangkan pengetahuannya di masa depan.

Album

Nana R. Hidayat Slideshow: Nana’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.